IKUTI
INFO PASISIRANCAK
  • 1 tahun yang lalu / info libur lebaran 2022 ekowisata penyu ampingparak: tiket masuk Rp10.000, sewa kano Rp25.000/30menit, sewa perahu listrik Rp150.000/jam
  • 1 tahun yang lalu / konservasi penyu ampingparak berencana realese 1.500 ekor tukik (anak penyu) saat libur lebaran 2022
  • 1 tahun yang lalu / Pokdarwis LPPL Amping Parak Sediakan Bibit Cemara Laut. Harga @15.000/batang
Rebana Zikir di Kambang Kian Terpinggir

Rebana Zikir di Kambang Kian Terpinggir

Oleh : Haridman - Kategori : Produk Wisata
26
Apr 2022

KISAH PEMAIN REBANA DARI KAMBANG

LAPORAN : HARIDMAN

Abu Samah (70) adalah salah satu pewaris dan pelestari kesenian rabana dikia (rebana zikir – red) di Kambang, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Rabana dikia yang ia warisi dari gurunya itu kini telah berada diambang kepunahan.

Di Lengayang sendiri grup rebana dikia dan masih eksis adalah klompok yang dikelolanya. Ia mengaku memiliki tiga teman lainnya dalam menjalankan kegiatan rabana dikia. Mereka akan berkumpul jika ada undangan atau permintaan untuk tampil. Sementara di kecamatan lain tidak pula terdengar kelompok kelompok rabana lainnya.

Rabana dikia kini sudah terancam punah. Tidak ada lagi generasi setelah saya yang mau melanjutkan kesenian yang berasal dari timur tengah tersebut,” katanya kepada pasisiarancak.com di Kambang.

Ia sendiri belajar kesenian tersebut semenjak umur 15 tahun. Semasa ia belajar memang peminat rabana dikia tergolong banyak. Ketika itu menurutnya tidak kurang dari 30 orang yang sama-sama belajar ke gurunya Maridun. Namun ditengah perjalanan, mereka yang bertahan hingga perguruan selesai hanya beberapa orang saja.

“Menjadi penerus kesenian rabana dikia butuh ketulusan dan keseriusan, ia tidak bisa dipaksakan karena kesenian ini membutuhkan keterampilan lain selain menabuh rebana besar. Misalnya keterampilan membaca tulisan arab,” katanya.

Belum lagi menurutnya, penabuh rebana dikia juga mahir membaca kitab barzanji dan memaknainya. Oleh karena butuh keterampilan, maka tidak banyak yang bertahan menekuni kesenian rabana dikia. Kini di Lengayang sendiri menurutnya, tidak satupun generasi muda yang tertarik untuk melanjutkan kesenian ini.

“Generasi seangkatan saya tinggal beberapa orang saja. Itupun sering terkendala dengan kondisi kesehatan tubuh. Bahkan bila ada permintaan untuk tampil, grup kami tidak bisa menyelesaikan barzanji hingga tamat. Persoalannya adalah kondisi kesehatan tubuh tadi,” katanya.

Dikatakannya, persoalan lain yang sedang dihadapi rebana dikia saat ini selain regenerasi adalah soal makin berkurangnya peminat rebana ini.

“Rata rata penikmat rabana dikia adalah kaum tua. Tidak seberapa dari kalangan muda, kalaupun ada hanyalah mereka yang ingin melihat dan melakukan penelitian,” katanya.

Pendengar atau penikmat rabana dikia juga dituntut mampu menterjemahkan barzanji yang dilagukan. Oleh karena itu, tidak banyak pula orang yang mengerti ketika rabana dimainkan.

Dijelaskan Samah,  untuk tampil maksimal, maka rabana dikia memerlukan empat orang personil. Dengan empat orang personil tersebut akan merlahirkan improvisasi dan suara yang lebih berwarna. Begitu pula dengan animo penonton, akan lebih menarik bila jumlahnya lebih banyak .

“Dan yang terpenting menurutnya, dengan jumlah empat orang, maka beban untuk menyelesaikan kitab barrzanji lebih ringan dan mudah. Barzanji bisa diselesaikan hingga dua malam. Namun tidak jarang saya hanya tampil dengan dua personil saja. Misalnya bila ada anggota yang berhalangan untuk hadir,” katanya lagi.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan