IKUTI
INFO PASISIRANCAK
  • 1 tahun yang lalu / info libur lebaran 2022 ekowisata penyu ampingparak: tiket masuk Rp10.000, sewa kano Rp25.000/30menit, sewa perahu listrik Rp150.000/jam
  • 2 tahun yang lalu / konservasi penyu ampingparak berencana realese 1.500 ekor tukik (anak penyu) saat libur lebaran 2022
  • 2 tahun yang lalu / Pokdarwis LPPL Amping Parak Sediakan Bibit Cemara Laut. Harga @15.000/batang
RUPANYA ADA DUA JEMBATAN AKAR DI PESSEL

RUPANYA ADA DUA JEMBATAN AKAR DI PESSEL

Oleh : Haridman - Kategori : Petualangan / Produk Wisata
23
Apr 2022


Laporan : =Haridman Kambang=

Rupanya, titian akar yang selama ini kita kenal di Puluik Puluik, bukanlah satu satunya jembatan akar di dunia. Masih ada jembatan akar lainnya yang belum terekspos ke luar. Titian akar “baru” itu tersuruk dari keramaian dan sulit pula dijangkau kendaraan. Meski demikian titian akar “baru” di Pesisir Selatan (Pessel) diperkirakan berumur sama dengan Puluik Puluik dirintis oleh orang yang sama pula. Keduanya berpotensi pula untuk digarap menjadi objek wisata handal.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang ketiga titian akar tersebut, berikut penulis laporkan dari Bayang Utara, Pesisir Selatan setelah melakukan sejumlah pengumpulan informasi dari warga setempat dan berkunjung langsung ke lokasi. Mulai dari asal usul hingga posisi titian akar dimaksud.

Sebelum ke titian akar ke dua, saya bahas ulang titian akar yang paling terkenal yakni Puluik Puluik. Ia berada disebuah kampung yang bernama  Kampung Puluik Puluik, Kenagarian Puluik Puluik, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan (sekitar 25 km dari Pasar Baru, Bayang).

Di sini telah dilahirkan seorang anak yang kemudian tumbuh menjadi manusia kreatif. Anak tersebut bernama Sokan, dan setelah dewasa akrab di panggil Pakiah Sokan.

Pakiah Sokan tinggal tidak jauh dari lokasi titian akar yang ada saat ini. Pada masa belia hingga beranjak dewasa otaknya selalu berfikir untuk memberikan solusi terhadap persoalan buruknya sarana transportasi di kampungnya. Yang paling mendesak menurutnya untuk segera ada adalah jembatan penghubung dari Puluik Puluik ke Lubuk Silau.

Saban waktu disaksikannya warga kampung yang juga tentu anak keponakannya sendiri di Lubuak Silau selalu menyeberangi sungai untuk pergi kepasar atau sekedar ke Puluik Puluik. Atau paling baik sarana yang ada pada saat itu adalah titian dari bambu belaka, setiap kali air sungai ini besar maka jembatan yang terbuat dari bambu ini akan terbawa arus air. Tidak hanya itu, penyeberangan seperti itu sangat membahayakan masyarakat.

Maka terfikirlah untuk membuat jembatan dari akar. Pakiah Sokan melakukan survei terhadap kayu yang memiliki akar kuat dan panjang, dan bisa menyatu satu sama lainnya. Di pelajarinya jenis kayu kayuan di hutan yang ada disekitar kampungnya. Setelah mematut matut apakah gerangan jenis kayu yang bisa dipergunakan untuk bahan pembuat jembatan, akhirnya pilihan jatuh pohon kubang dan beringin. Semuanya telah dengan pertimbangan sangat matang, mulai dari kekuatan pohon, kekuatan akar dan lain sebagainya.

Tahun 1916 Pakiah Sokan ini mulai menanam dua batang pohon tersebut. Masing masing ditanam secara berseberangan, di seberang sebelah Kampung Puluik Puluik ditanam pohon kubang dan diseberang sebelah dusun Lubuak Silau  di tanam  pohon beringin.

Semenjak ditanam pada tahun 1916 ini, dirawatlah pohon yang kemudian hari menjadi sangat terkenal. Setelah tumbuh dengan baik, maka di pasangnya bambu seperti jembatan sebelumnya dan setalah kayu yang ditanam beliau mulai besar dan akarnya mulai banyak, mulailah Pakiah Sokan menjalin (menganyam) akar ini satu persatu dan mengikuti titian bambu.

“Setiap hari angku Pakiah Sokan  menjalin akar demi akar dan sampai terjadinya jembatan akar ini. Pada tahun sembilan puluhan barulah jembatan akar ini di perkenalkan dan di jadikan objek wisata sampai saat ini. Jembatan akar ini sudah dikenali oleh wisatawan lokal dan sebagian wisatawan mancanegara,” ungkap Riko Eka Putra” cucu Pakiah Sokan. Demikian titian akar Puluik Puluik.

Titian Akar Puluik Puluik

Lantas titian akar kedua dan ketiga bisa anda temukan dengan bergerak menuju hulu Batang Bayang Janiah, tepatnya ke Kampung Bayang Janieh, Nagari Koto Ranah. Dari Puluik Puluik ke ibu nagari Koto Ranah hanya sekitar 2 km, dari ibu nagari ke Kampung Bayang Janieh sekitar 5 km, jalannya agak menantang memang, tapi bagi pecandu suasana alami ini akan menjadi daya tarik sendiri.

Sesampai di gerbang Kampuang Bayang Janieh nan bersahaja itu, anda akan di sambut langsung titian akar yang panjangnya sekitar 12 meter. Modelnya agak ramping dibandingkan  titian akar Pulut Pulut. Karena ia berada di hulu sungai tentu airnya sangat jernih. Dibawahnya tampak bermain ikan garing dan sebagainya.

Di Kampung ini hanya dihuni 35 Kepala Keluarga, masyarakatnya sangat sopan dan santun. Kampung yang bersahaja ini siangnya sangat sepi. Hanya gemericik air dan bunyi kincir yang terdengar. Masyarakatnya pergi ke ladang dan ke sawah.

Titian Akar Bayang Janiah

Menurutnya, umur titian akar di Bayang Janieh tidak jauh beda dengan di Puluik Puluik yang terkenal itu. Itu bisa dilihat dari kondisi fisik dan lingkaran tahunan pohonnya. Pembuatannya juga berkaitan erat dengan titian Puluik Puluik. Anda pecinta suasana kampung tengah rimba silahkan berkunjung untuk menyaksikan keajaiban alam ini.

2 Komentar

SMAN2 Lengayang, Minggu, 24 Apr 2022

Adakah penampakan nya min, photo atau video
makasih

Balas

    admin, Minggu, 24 Apr 2022

    Photo Ada
    Video dalam proses, sabar ya..

    Balas

Tinggalkan Balasan