IKUTI
INFO PASISIRANCAK
  • 1 tahun yang lalu / info libur lebaran 2022 ekowisata penyu ampingparak: tiket masuk Rp10.000, sewa kano Rp25.000/30menit, sewa perahu listrik Rp150.000/jam
  • 2 tahun yang lalu / konservasi penyu ampingparak berencana realese 1.500 ekor tukik (anak penyu) saat libur lebaran 2022
  • 2 tahun yang lalu / Pokdarwis LPPL Amping Parak Sediakan Bibit Cemara Laut. Harga @15.000/batang
MENELISIK TRADISI “BAPARANG” DI PESSEL

MENELISIK TRADISI “BAPARANG” DI PESSEL

Oleh : admin - Kategori : Kebudayaan dan Sejarah / Tradisi
14
Apr 2022

Ada tradisi unik saat menyambut anak sumbang lahir di Pesisir Selatan. Anak sumbang, adalah anak yang dilahirkan kembar dengan jenis kelamin berbeda satu sama lainnya. Satu laki laki, satunya lagi perempuan. Tradisi masyarakat Pesisir Selatan, jika anak lahir dalam keadaan seperti itu harus digelar “perang”. Ritual ini dikenal dengan sebutan “baparang”.

Ritual ini masih melekat erat dalam kehidupan masyarakat, terutama sekitar Kecamatan Lengayang, Balai Selasa dan Sutera. Nyaris tidak ada yang melewatkan ritual ini, jika yang lahir adalah anak kembar berbeda jenis kelamin.

Tradisi Baparang Pesisir Selatan

Tidak pula jelas, sejak kapan tradisi perang menyambut kelahiran anak sumbang tersebut di mulai di Pesisir Selatan. Tidak ada catatan rinci tentang ini. Namun diyakini masyarakat, jika perang tidak dilaksanakan, anak kembar dengan jenis kelamin berbeda tersebut akan menimbulkan banyak persoalan di kemudian hari. Misalnya, hingga tumbuh dewasa mereka sulit dipisahkan padahal mereka berlainan jenis kelamin, jika kedua duanya lelaki tidak menjadi masalah.

Bagai mana peperangan dilaksanakan? Jangan di bayangkan pula akan terjadi perang berdarah – darah. Yang berperan penting dalam peperangan adalah induak bako (keluarga pihak ayah). Induak bako dengan pasukan lengkap mengatur strategi sedemikian rupa. Namun sebelum peperangan digelar, induak bako sang anak kembar tadi mengabari orang tua serta ninki mamak yang ada, bahwa akan ada penyerangan pasukan induak bako kerumahnya.

Pasukan di dandani sedemikian rupa. Pakaian pasukan biasanya menggunakan berbagai jenis dedaunan hingga menyerupai hantu atau simuntu. Misalnya daun pisang yang telah kering dililitkan ke seluruh tubuh. Wajah ditutup topeng. Ada pula memanfaatkan pelepah pisang dan pelepah kelapa sebagai kuda, layaknya kuda lumping. Pelepah pisangpun dibentuk menyerupai senjata mainan dan tiang bendera. Beberapa anggota pasukan lainnya memegang batok kelapa.

Selanjutnya amunisi. Amunisi yang dipersiapkan induak bako adalah pisang mentah maupun rebus, ubi rebus, lapek dan sejumlah makanan lainnya. Jika perbekalan dan asesoris tadi telah lengkap, pasukan berarti telah siap untuk melakukan penyerangan.

Di rumah anak kembar tadi, ibu bapaknya menunggu. Berdiam saja di dalam rumah menjelang peperangan berakhir. Termasuk para ibu (etek) dari anak kembar juga berlindung di dalam.

Berjarak serratus meter lempar-lemparan pisang sudah berlangsung. Pasukan bako terus bergerak. Setelah pasukan induak bako sampai dihalaman rumah, maka salah satu anggota pasukan, mulai mengeluarkan kalimat kalimat provokasi dan kata kata mengandung makna kekecewaan. Misalnya, Hoi apak paja, manga ang paduoan anak kami. (Hei…Ayah anak kembar, mengapa engkau punya anak kembar masing masing jenis kelamin berbeda-red). Saat, itu seisi rumah tidak akan menjawab.

Puas mengeluarkan kata kata, “komandan” perang kembali memerintahkan untuk menyerang rumah, caranya dengan melempar “amunisi” berupa makanan tadi sembari memukul mukul batok kelapa. Peluru ada yang mengenai dinding, atap, atau terserak begitu saja di halaman. Suasana riuh. Saat amunisi telah habis, pasukan mengitari rumah sasaran sebanyak tiga kali diiringi suara pukulan tempurung kelapa.

Selanjutnya, para ibu ibu yang telah menunggu di dalam membukakan pintu dan mempersilahkan pasukan masuk kedalam rumah. Pasukan dengan tertib satu persatu menghampiri anak kembar, adapula yang menimang nimang.

Peperangan akhirnya ditutup dengan doa bersama yang di pimpin oleh seorang alim. Memohon kepada Allah kelak anak ini ditunjukkan jalan yang lurus. Dengan demikian salah satu kekhawatiran dianggap telah hilang. (Haridman, Pemerhati Tradisi Lokal)

0 Komentar

Tinggalkan Balasan