IKUTI
INFO PASISIRANCAK
  • 1 tahun yang lalu / info libur lebaran 2022 ekowisata penyu ampingparak: tiket masuk Rp10.000, sewa kano Rp25.000/30menit, sewa perahu listrik Rp150.000/jam
  • 2 tahun yang lalu / konservasi penyu ampingparak berencana realese 1.500 ekor tukik (anak penyu) saat libur lebaran 2022
  • 2 tahun yang lalu / Pokdarwis LPPL Amping Parak Sediakan Bibit Cemara Laut. Harga @15.000/batang
Lopak Seberang Tarok

Lopak Seberang Tarok

Oleh : Haridman - Kategori : Produk Wisata
30
Apr 2022

LAPORAN : HARIDMAN

Lopak, demikian orang di Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan menyebut kerupuk yang terbuat dari ubi. Yunia (40), warga Seberang Tarok Lakitan, saban hari membantu pendapatan keluarga dengan membuat lopak. Sudah 20 tahun ia menekuni pekerjaan sebagai tukang buat lopak. Alhasil, Nia (panggilan akrabnya) dapat mengantongi keuntungan Rp350 ribu tiap pekan.

Dalam satu minggu, Nia menghabiskan 3-4 karung ubi atau ketela batang. Untuk menghabiskan tiga sampai empat karung itu, Nia tidak membutuhkan tenaga kerja lain. Hanya saja dalam waktu waktu tertentu, suaminya Darwis (50) ikut meguliti ubu dan memarutnya hingga jadi halus.

Bahan dasar berupa ubi, didapatkan Nia dari petani yang ada di sekitar Lengayang dengan harga paling rendah Rp35 ribu perkarung (karung pupuk-red). Manakala ubi di Lengayang sulit, Niapun tidak segan segan mencarinya ke kecamatan tetangga, misalnya Ranah Pesisir dan Sutera.

Setiap hari Nia menguliti lebih setengah karung ubi untuk selanjutnya diparut, kemudian menghasilkan ratusan lopak. Hasil parutan kemudian airnya dikurangi itulah yang dijadikannya adonan pembuat lopak. Adonan ditambahkan garam dan daun kunyit secukupnya. Lalu peralatan lainnya adalah kompor minyak, alat kukusan, piring dan potongan plastik seukuran piring pula.

Diambilnya adonan sekitar 50 gram, kemudian diletakkan ke atas piring yang telah dialas plastik. Tujuan diberi plastik supaya mudah mengangkatnya dari piring. Jari lentik Nia kemudian tampak dengan lincah membuat lopak hampir sebesar piring. Hanya butuh waktu semenit, satu lembar lopak siap, untuk selanjutnya di masukkan ke dalam kukusan.

Mana yang sudah matang diangkatnya, sembari menggantinya dengan yang baru. Demikian terus berulang ulang hingga akhirnya adonan habis dan telah menjadi lopak. Ketika lopak dikeluarkan dalam kukusan, Nia hanya menunggu beberpa saat dan setelahnya menjemur diatas jemuran yang dibuatnya sangat sederhana.

“Namun perlu diingat, agar produksi bagus atau lopak tidak asam, maka jangan biarkan ubi parutan menunggu satu malam untuk dikerjakan. Jika perlu sejam setelah dikurangi airnya, adonan langsung dikerjakan. Begitu pula menjemurnya, jangan tunggu hingga besok, jika tidak lopak akan terasa asam dan tidak gurih,” katanya menjelaskan.

Lantas bagaimana dengan pemasaran. Rupanya, setelah 20 tahun membuka usaha ini, Yunia tidak kesulitan memasarkan produksinya. “Saya tidak menjual lopak yang siap dimakan, namun menjual lopak mentah ke pelanggan. Di sekitar Lengayang banyak pelanggan yang datang langsung ke rumahnya untuk membeli lopak,” katanya.

Ibu satu orang anak ini menyebutkan, bahkan ia kesulitan memenuhi permintaan konsumen, apalagi bila bahan baku sulit didapat. “Lopak biasnya dijadikan berbagai penganan selain dimakan langsung. Misalnya dijaikan lopak kuah, lopak mie dan lain lain. Alhamdulillah, hasilnya lumanyan. Setiap minggu bisa memperoleh keuntungan minimal R350 ribu,” katanya menjelaskan.

Hasan Basri (55) warga Lakitan Utara, salah satu konsumen Yunia kepada penulis mengakui, lopak buatan Yunia sangat gurih. Bahkan ketika dijadikan lopak kuah, maka banyak diserbu pembeli. “Saya setiap minggu memesan 100 lembar lopak, lopak ini saya jadikan lopak kuah,” katanya.

0 Komentar

Tinggalkan Balasan